Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Trik Agar Anak Jago Matematika, Begini Cara Mengajarinya!

Trik Agar Anak Jago Matematika, Begini Cara Mengajarinya!




Anak-anak sekarang belajar angka dan huruf lebih cepat dibanding zaman dulu. Ada banyak cara mengajarkan balita untuk mengenal angka dengan cara menyenangkan agar kelak menjadi matematikawan yang efektif. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dan permainan yang bisa dijalankan para orangtua dalam mengajari belajar bilangan dan menghitung.

Agar proses belajar itu menyenangkan dan menarik, laman Boldsky, Kamis (7/11/2013), berbagi tips untuk memulai hal yang menyenangkan:

1. Buatlah gambar

Ini adalah cara paling umum yang bisa dilakukan orangtua saat mengajarkan angka ke balita. Di rumah Anda bisa membuat gambar angka dan membantu anak terbiasa dengan angka-angka.

Anda bisa melakukannya dengan berbagai cara. Anda bisa menuliskan nomor satu dan menggambarkan lagi yang bentuknya sama. Ini bisa membantu si kecil mengenal angka dalam cara berbeda.

2. Pasangkan angka

Cara sederhana ini bisa membantu balita Anda memiliki hubungan alami dengan angka dan mencocokkan angka yang memiliki tampilan yang serupa.

3. Melompat

Anda bisa melibatkan permainan melompat. Anda bisa meminta si kecil melompat dari satu nomor ke nomor yang lain. Ini benar-benar permainan balita yang sangat seru dalam mengajarkan angka. Anak Anda bisa dengan mudah melompat dari angka satu ke lainnya.

4. Berburu angka

Berburu angka merupakan cara anak belajar bagaimana mengenali angka dan mencari angka seperti yang diminta. Anda bisa menggunakan potongan kertas dan menuliskan angka di sana. Kemudian Anda menyembunyikan kertas di bagian rumah dan meminta anak mencari nomor tertentu.

5. Tarian nomor

Anda bisa mengenalkan angka ke si kecil dengan menari. Misalnya, Anda mengajarkan anak gerakan tertentu dan kemudian ketika Anda mengatakan empat ke si kecil, ia akan mengulangi gerakan sebanyak empat kali.

6. Tabak nomor

Permainan ini menarik perhatian anak-anak Anda. Anda bisa membuat anak menebak nomor dengan memberikan pentunjuk.


Misalnya, Anda bisa menggambar rumah dan menyebutnya sebagai angka 5. Kemudian Anda bisa menggambarkan pohon sebelum menanyakannya. Ini akan membantu anak menebak bahwa pohon adalah nomor empat. Ini akan membantu mengembangkan intelektual anak.



Sumber: http://health.liputan6.com/read/739810/agar-anak-jago-matematika-begini-cara-mengajarinya

Senin, 07 Juli 2014

Pahlawan Matematika Muslim yang Terlupakan

Pahlawan Matematika Muslim yang Terlupakan




Saat ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno. 

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat Islam) terhadap perkembangan matematika? 


Kisah angka nol 

Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu. 

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa "sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap". Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu. 

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. 

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal. 



Zaman Kegelapan 

Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu. 

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani. 

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq. 

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya. 

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F. Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya. 



Kontribusi matematikawan Muslim 

Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al-Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al-Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek aljabar”. 

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi-aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan. 

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,…dan 1/x, 1/x2, 1/x3,…dan memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al-Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui (variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang diketahui. 

Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang algebraic geometry. 

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra (lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing-masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir tahun 980). 

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p. 

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al-Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik. 

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner. 



Bidang Astronomi 

Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910-an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada bidang. 

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet. 

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) dan Al-Kashi. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari pengaruh para matematikawan Muslim. 

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan-pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan. Wallahu a’lam.*


Sumber :
Dr. Rizky Rosjandi, Doktor Bidang Kajian Analisis Aljabar, Alumni ITB, Staf Pengajar UPI
Al Jupri, Alumni UPI, Juara III Olimpiade Matematika Internasional di Iran, Staf Pengajar UPI
Pikiran Rakyat 2006
http://matematika.upi.edu/index.php/pahlawan-pahlawan-matematika-yang-terlupakan/, dalam:
http://fkip.ums.ac.id/matematika/cetak.php?id=2626 Januari 2010


Sumber Gambar:

http://library.kptm.edu.my/about2.php

Minggu, 09 Februari 2014

8 Hal Penting Rahasia Menciptakan Lingkungan Kelas yang Dinamis

8 Hal Penting Rahasia Menciptakan Lingkungan Kelas yang Dinamis





Menurut (Johnson, 2009) Berikut 8 kegiatan penting yang perlu kita lakukan untuk menciptakan lingkungan kelas yang dinamis yang juga dapat membantu Anda dalam mengembangkan hubungan Anda dengan murid-murid Anda.



1. Perkenalkan murid-murid anda satu sama lainnya, murid-murid cenderung memperlakukan satu sama lainnya dengan baik jika mereka mengetahui nama satu sama lainnya.


2. Ajarkan prosedur cara merespon secara lisan, ada 3 pilihan dalam cara merespon secara lisan :
-Murid harus selalu mengangkat tangan mereka sebeum berbicara dan tidak boleh menyela Anda atau murid-murid lainnya.
-Murid boleh menanggapi pertanyaan Anda atau komentar murid lainnya secara spontan.
-Setiap, orang termasuk Anda harus menunggu periode waktu yang spesifik (Saya sarankan 30 detik atau 2 menit) sebelum menanggapi. Selama waktu berpikir mereka menuliskan ide-ide mereka.


3. Cari tahu apa yang murid-murid anda telah ketahui, carilah esai atau editorial, ulasan film, atau artkel-artikel di koran atau majalah yang menarik atau kontroversial dan buat salinannya untuk murid Anda. Suruh mereka membaca artikel dengan tenang dan menuliskan tanggapan akan isinya. Cara ini tidak hanya memberikan Anda informasi tentangkemampuan mengarang dan berpikir analistis para murid, tetapi juga memberi mereka latihan yang baik bagi mereka kelak jika mereka harus melakukannya di bangku kuliah.


4. Bagikan lembaran selamat datang, bagikan lembaran tersebut di depan kelas sehingga Anda yakin bahwa semua anak sudah melihat dan mendengar dengan jelas apa yang termaktub di dalamnya. Walaupun negara kita negara demokrasi, namun menyerahkan pengendalian aturan yang demokratis untuk peserta didik bukanlah ide yang bagus. Mendengarkan ide mereka adalah cara yang baik untuk menghindari perilaku buruk atau pemberontakan di kemudian hari.


5. Delegasikan kekuasaan, kita senang menolong orang lain. Ttetapi kita juga sukadikendalikan, dan banyak dari kita sulit mendelegasikan kekuasaan kita. Dengan berbagi kekuasaan, Anda dapatmemberikan keuntungan yang besar. Dengan memberikan tugas-tugas kepada murid anda dapat menyimpan waktu dan energi anda untuk hal-hal yang lebih penting. Contohnya, menyuruh murid dalam mengabsen saat di dalam kelas, meskiput Anda memeriksa kembaliagar laporannya akurat.


6. Tunjukkan kekuatan pilihan, murid -murid harus mengetahui bahwa ketika mereka nakal atau gagal di kelas Anda, adalah karena mereka memilih untuk nakal dan gagal. Murid tidak memiliki alasan yang valid untuk tidak lulus dari kelas, lulus dari sekolah, menemukan pekerjaan yang layak, mengembangkan ketrampilan yang bermanfaat, dan menjadi manusia yang berhasil kecuali jika mereka benar-benar memiliki kecacatan belajar.


7. Bantu murid-murid anda memahami diri mereka sendiri, anak-anak muda lebih tertarik pada diri mereka sendiri dan teman-teman mereka dibanding dengan topik yang lain. mereka juga paling bingung dengan diri mereka sendiri, dan kebingungan itu sering menyebabkan masalah-masalah di sekolah.


8. Ajarkan murid-murid untuk berpikir tentang pikiran, hal ini dilakukan dengan menjelaskan tingkatan-tingkatan berpikir yang berbeda, dan memberikan satu atau dua contoh.


Taksonomi Bloom Domain Kognitif: Aplikasi Biologi.


-Mengingat level terendah, Mengingat informasi, menyebutkan nama-nama tumbuhan hijau, menyebutkan bagian-bagian tubuh, menyebutkan defenisi fotosintesis.
-Pengertian, memahami hal-hal: mengetahui perbedaan antara otak kiri dan otak kanan, atau karbohidrat dan protein.-Aplikasi, Menggunakan hal-hal yang kalian pahami: Menulis sebuah daftar nama tumbuhan yang termasuk tumbuhan dikotil dan yang termasuk tumbuhan monokotil.-Analisis, membandingkan hal-hal yang berbeda: membandingkan antara sel hewan dan sel tumbuhan.-Sintesis, Membuat ide-ide dan proyek kalian sendiri: Menulis artikel tentang pencemaran lingkungan.-Evaluasi level tertinggi, membuat penilaian berdasarkan pengetahuan. Membaca 2 opini yang berbeda dan menetukan opini mana yang masuk akal, dengan memberikan contoh-contoh spesifik dari suatu bacaan untuk mendukung pilihan.


Selasa, 05 November 2013

Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI)



Banyak tulisan yang beredar sekarang ini, lebih-lebih di internet. Namun demikian, mungkin tidak banyak yang merupakan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Secara sederhana, pengertian Karya Tulis Ilmiah dapat dijabarkan dari kata-kata “Karya”, “Tulis”, dan “Ilmiah”. “Karya” mengandung pengertian hasil dari gagasan dan upaya sendiri baik yang bersifat invensi (penemuan) maupun perumusan yang baru dari yang sudah ada, sehingga bukan merupakan gagasan dan upaya orang lain. “Tulis” mengandung arti bahwa gagasan dan upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk bahasa tulis, bukan yang lain seperti benda (patung), alat dengar, atau yang lainnya. “Ilmiah” mengandung arti bahwa gagasan dan upaya tersebut merupakan hasil dan kegiatan yang didasarkan teori dan/atau fakta serta dianalisis dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.


Beberapa definisi berikut dapat mewakili apa yang disebut dengan Karya Tulis Ilmiah. KTI merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan atau bukti-bukti empirik. (Wardani,dkk, 2007). Secara sederhana, Suharjono (2006) menyatakan bahwa KTI dapat diartikan sebagai laporan tertulis tentang (hasil) suatu kegiatan ilmiah.

Karakteristik Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Walaupun berbeda-beda dalam bentuk, isi, (dan tentu saja angka kreditnya), namun semua KTI memiliki kesamaan sebagai tulisan ilmiah, yaitu:
  1. Hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan.
  2. Kebenaran isinya mengacu pada kebenaran ilmiah.
  3. Kerangka sajiannya mencerminkan penerapan metode ilmiah.
  4. Tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya ilmiah. (Suharjono, 2006).
Karakteristik sebuah KTI dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta bahasa tulisan. (Wardani,dkk, 2007).
Struktur sajian KTI sangat ketat, paling pokok terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian akhir. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, bagian inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa subbagian. Sementara bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

Komponen KTI bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal umumnya mempersyaratkan adanya abstrak. Objektivitas merupakan sikap penulis dalam KTI. Cirinya antara lain tidak memihak (impersonal), menggunakan bahasa pasif, dan yang pasti berdasarkan data valid dan analisis yang tepat-rasional. Bahasa yang digunakan dalam KTI haruslah menggunakan bahasa baku (EYD dalam Bahasa Indonesia) yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Suharjono (2006) menyatakan, sebuah KTI memenuhi syarat sebagai sebuah hasil pengembangan profesi jika memenuhi kriteria “APIK”, yaitu Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten.
1. Asli
Karya tulis ilmiah itu haruslah merupakan karya diri si penulis, bukan karya orang lain, bukan pula dibuatkan oleh orang lain, atau menggunakan karya orang lain. KTI yang tidak asli dapat terindentifikasi antara lain melalui adanya indikasi bahwa tulisan itu skripsi, penelitian atau karya orang lain, adanya lokasi dan subjek yang tidak konsisten, waktu pelaksanaan yang tidak sesuai, data yangtidak konsisten, tanggal yang tidak konsisten, dan lain-lain.
2. Perlu
KTI seharusnya merupakan hasil sebuah usaha pemecahan masalah yang diperlukan oleh penulis dalam pengembangan profesi. Oleh karena itu, haruslah jelas manfaatnya bagi guru, siswa atau sekolah. KTI yang tidak perlu dapat terlihat dari masalah yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan usaha pengembangan profesi, tidak jelas manfaatnya, sudah jelas pemecahannya, dan tidak termasuk macam KTI yang dipersyaratkan untuk pengembangan profesi.
3. Ilmiah
Sebagai karya ilmiah, KTI haruslah mengkaji permasalahan di khasanah keilmuan, menggunakan kriteria kebenaran ilmiah (tidak didasarkan pada praduga, mitos, akal sehat, atau asumsi), menggunakan metode ilmiah (umumnya memuat dugaan teoritis dan uji empiris), dan memakai tatacara penulisan ilmiah. Selain tidak memenuhi beberapa kriteria di atas, suatu KTI yang tidak ilmiah juga terindikasi oleh tidak jelasnya rumusan masalah, landasan teori yang tidak sesuai, data yang tidak relevan dan tidak valid, analisis yang tidak sesuai, serta kesimpulan yang tidak sesuai atau tidak menjawab rumusan masalah.
4. Konsisten
Permasalahan yang diangkat dalam KTI haruslah sesuai dengan kompetensi si penulis sebagai seorang guru, dan sesuai pula dengan tujuan penulis untuk pengembangan profesinya sebagai guru dan terkait dengan dunia pendidikan.

Jenis dan Bentuk Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Kegiatan yang digolongkan ke dalam kegiatan ilmiah cukuplah banyak. Namun demikian, secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 kategori, yaitu: KTI hasil penelitian ilmiah, dan KTI hasil kajian/ulasan/tinjauan ilmiah.
Sajian karya tulis ilmiah dapat berupa buku, modul, atau makalah baik yang dipublikasi maupun tidak. Perbedaan karya tulis ilmiah yang satu dengan yang lain bergantung pada kegiatan ilmiah yang dilakukan, tujuan penulisan, serta media publikasi atau dokumentasinya.
Kegiatan ilmiah dapat dikelompokkan dalam 2 besar yaitu kegiatan penelitian dan kegiatan kajian literatur. Kegiatan penelitian dimulai dengan kajian literatur lalu dilanjutkan dengan pengambilan data, menganalisisnya dan menyimpulkan. KTI yang merupakanhasil kajian literatur semata inilah yang dimaksud sebagai KTI hasil kajian/ulasan/tinjauan ilmiah. Tujuan penulisan karya ilmiah, secara umum adalah untuk menyampaikan gagasan atau hasil penelitian. Namun demikian beberapa penulisan KTI memiliki tujuan khusus antara lain untuk memenuhi tugas dalam studi, mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, atau mengikuti perlombaan.
Sementara media publikasinya dapat berupa cetak atau pun non-cetak. Dapat pula dikelompokkan ke dalam beberapa jenis: naskah 1 halaman, paper (beberapa halaman dan tanpa daftar isi), buku (halamannya banyak dan dijilid). Karya Tulis Ilmiah dalam rangka pengembangan profesi terbagi ke dalam 7 jenis KTI, yaitu:
1. KTI hasil penelitian, pengkajian, survei, dan/atau evaluasi
  • Berupa buku pelajaran yang diedarkan secara nasional
  • Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Kemdikbud
  • Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional
  • Berupa makalah
2. KTI yang merupakan tinjauan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan. Jenis-jenisnya sama dengan nomor 1.
3. KTI yang berupa tulisan ilmiah populer yang disebarkan melalui media massa (artikel ilmiah populer)
4. KTI yang berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan ilmiah (makalah)
5. KTI yang berupa buku pelajaran
  • Berupa buku yang bertaraf nasional
  • Berupa buku yang bertaraf provinsi
6. KTI yang berupa diktat pelajaran (yang digunakan di sekolahnya)
7. KTI yang berupa karya terjemahan (yang bermanfaat bagi pendidikan)

Manfaat Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Bagi guru, manfaat penulisan Karya Tulis Ilmiah terkait 2 hal pokok:
  1. Untuk meningkatkan profesionalisme sebagai guru. Dalam hal ini terkait dengan Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan. Dengan menulis, guru dapat mengasah dan mempertajam pemikiran dan wawasan terkait tugas dan tangung jawabnya sebagai guru.
  2. Untuk meningkatkan karir di jenjang guru. Penulisan KTI merupakan salah satu syarat untuk pengajuan angka kredit peningkatan pada jenjang guru tertentu.
Selain terkait dengan tugas dan tanggung jawab sebagai guru, penulisan karya tulis ilmiah dapat berfungsi sebagai rujukan/referensi untuk meningkatkan wawasan atau menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Dengan menulis karya ilmiah akan bermanfaat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, berlatih mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual, di samping menyumbang terhadap perluasan cakrawala ilmu pengetahuan. (Wardani,dkk, 2007).
Sumber : Hand out diklat online P4TK Matematika Yogyakarta 2013










Senin, 28 Oktober 2013

Pola Kesuksesan: Sukses Itu Sederhana

Pola Kesuksesan: Sukses Itu Sederhana



Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana. Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi kenyataan. Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat. Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya. Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses? Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya. Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula. Nah, bagaimana pola sukses itu?



Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:

1. Keyakinan Diri yang Positif
Segalanya berawal dari sini. Ini citra diri anda. Self image. Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri? Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal? Anda orang baik atau orang buruk? Anda ganteng / cantik atau buruk rupa? Anda layak kaya atau layak miskin? Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas? Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya? Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat? Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak? Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri. Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses. Anda orang baik. Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas. Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain. Tidak rendah diri. Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan. Kenapa ini penting? Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu. Iya kan?

2. Melakukan Keharusan
Langkah kedua adalah melakukan keharusan. Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit. Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan. Tapi sangat baik bila dilakukan. Keharusan ini bersifat seperti imunisasi. Bayi harus diimunisasi. Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan. Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya. Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan. Setiap orang harus bangun pagi-pagi. Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi. Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri. Setiap orang harus bisa berpikir. Setiap orang harus bisa memecahkan masalah. Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar. Bila anda karyawan, anda harus disiplin. Taat aturan. Betapa pun aturan itu membuat anda kesal. Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu. Bila anda atlet, anda harus keras berlatih. Meski itu melelahkan. Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda? Tidak!!! 100% tidak bisa sukses.

3. Membentuk Kebiasaan Positif
Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Setiap orang harus bangun pagi. Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan. Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan. Keharusan anda belum menjadi kebiasaan. Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan. Sebuah kebiasaan positif harus benar-benar jelas. Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu. Anda melakukan keharusan anda. Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan? Maka ini bukan kebiasaan. Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan. Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu. Satu kata yang benar-benar sangat menentukan. Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda. Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah. Salah satu kurang, fondasi tak kuat. Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Sukses pun begitu. Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat.

4. Membentuk Kebiasaan Produktif
Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif. Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung. Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif. Membaca buku itu positif. Apakah produktif? Tidak. Menulis buku lah yang produktif. Hasilnya jelas sebuah buku. Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan. Jadi ada hasilnya. Ada produknya. Anda benar. Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal. Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan. Produktif? Belum. Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu. Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli. Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif? Jelas tidak. Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif

5. Berkompetisi
Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi. Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan. Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang. Segera bangkit ketika dikalahkan. Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

“Meraih sukses sulit. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit. Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti anda


Sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8801578

Minggu, 27 Oktober 2013

Hubungan Matematika dengan Ilmu Psikologi

Hubungan Matematika dengan Ilmu Psikologi


Psikologi adalah studi ilmiah tentang hubungan antara prosesmental, emosi, dan perilaku. Matematika dan psikologi dihubungkan dengan tiga cara utama. Pertama, psikolog kognisi studi matematika, yaitu, perkembangan otak, akuisisi, dan penerapan kemampuan matematika. Kedua, psikolog menyelidiki perasaan orang dan sikap tentang matematika. Ketiga, psikolog menggunakan matematika, terutama statistik, sebagai alat profesional untuk mengukur dan menganalisis temuan-temuan ilmiah mereka.


Psikolog yang bekerja di bidang studi matematika bagaimana manusia kognisi memproses informasi, menafsirkansimbol matematika,dan mengembangkan dan menggunakan strategi untuk memecahkan masalah matematika. Sebagai contoh, keterampilan ini sangat penting untuk disebut kata “masalah”, dimana deskripsi tertulis harus diterjemahkan ke dalam persamaan. Kebanyakan siswa menganggap “kata” masalah yang lebih sulit untuk memecahkan daripada jenis lain masalah matematika. Hal ini karena “kata” masalah memerlukan berbagai keterampilan dari otak, termasuk kemampuan untuk membaca dan memahami makna dan konteks dari kata-kata, kemampuan untuk memahami dan menentukan masalah matematika, kemampuan untuk menetapkan simbol matematis untuk variabel tidak diketahui , dan akhirnya, kemampuan untuk menerapkan strategi pemecahan masalah dan menghitung jawaban yang benar.

kognisi Matematika adalah bidang yang sangat penting dalam psikologi. Ini manfaat ilmuwan dan dokter mempelajari otak, dan membantu para pendidik mengembangkan metode pengajaran yang lebih baik untuk matematika. Selain itu, studi yang sangat penting bagi pengembangan “pintar” komputer, jaringan syaraf tiruan, logika fuzzy, robot, dan kecerdasan buatan.

Psikolog juga mempelajari bagaimana orang-orang merasa tentang matematika, karena perasaan seseorang tentang pengaruh subjek kesediaan mereka untuk belajar dan menggunakannya. Misalnya, perbedaan budaya dan gender dalam sikap tentang matematika mempengaruhi nilai tes. Daerah lain menerima banyak perhatian disebut matematika fobia atau kecemasan matematika. Math fobia adalah takut matematika.Orang dengan fobia matematika menjadi sangat tidak nyaman dan cemas ketika dihadapkan dengan tugas-tugas matematika yang mereka dapat mengalami gejala fisik termasuk peningkatan denyut jantung, perut gugup, dan kesulitan bernapas yang mencegah mereka dari berkonsentrasi dan belajar. Perasaan ini telah dilacak ke berbagai sumber, termasuk pengalaman negatif di ruang kelas, citra diri yang buruk, kurangnya apresiasi untuk aplikasi matematika untuk “kehidupan nyata,” dan rasa malu yang mencegah mengajukan pertanyaan.
Link utama ketiga antara psikologi dan matematika adalah bahwa psikolog menggunakan alat-alat matematika dan statistik untuk mengukur dan menganalisa hasil penelitian mereka. Penggunaan ini disebut psikometri dan timbul dari penerapan metode ilmiahdalam psikologi, yaitu, suatu metode sistematis pengumpulan data, pengembangan hipotesis, dan pengujian eksperimental yang dapat digandakan dan diverifikasi oleh ilmuwan lainnya.

Salah satu contoh dari psikometri adalah Intelligence Quotient (IQ) tes, tes standar yang mengukur kecerdasan relatif seseorang.Sebuah nilai IQ adalah pengukuran relatif, dibandingkan dengan referensi IQ 100 untuk nilai rata-rata. skor IQ untuk populasi besar merupakan contoh dari fungsi statistik yang disebut distribusi normal. kurva normal atau kurva Gauss adalah kurva lonceng berbentuk akrab di mana pengukuran yang digambarkan sepanjang sumbu x dan frekuensi digambarkan sepanjang sumbu-y. Sebagian besar nilai IQ jatuh di bagian luas kurva dekat nilairata-rata 100. Sebagai skor menyimpang negatif atau positif dari 100, mereka penurunan frekuensi.

metodologi Q adalah jenis analisis yang digunakan dalam psikologi untuk mengukur dan mengkuantifikasi perasaan sekelompok orang mengenai topik tertentu. Sebagai contoh, sebuah kelompok besar mahasiswa bisa diminta dengan pertanyaan berikut: “Bagaimana perasaan Anda tentang sekolah Anda?” Berbagai macam jawaban akan dikumpulkan mulai dari “Aku benci” untuk “Aku cinta” dengan banyak pendapat di antara menunjukkan sifat baik dan buruk dari sekolah. Set seluruh pendapat disebut concourse tersebut. Dari itu, dalam jumlah terbatas pendapat (sampel Q) akan dipilih yang mewakili spektrum respon. Selama wawancara berikutnya, para siswa akan membaca sampel Q dan peringkat tingkat kesepakatan dengan masing-masing pendapat menggunakan skala -4 ke +4, dimana -4 menunjukkan ketidaksetujuan yang kuat dan +4 menunjukkan perjanjian yang kuat dengan pendapat itu. Proses ini disebut Q sorting. Data numerik yang dihasilkan dapat dianalisis dengan menggunakan fungsi statistik untuk memberikan gambaran matematika pendapat siswa tentang sekolah mereka.

Konsep statistik umum dan alat dipelajari dan digunakan oleh psikolog termasuk korelasi, regresi, sampling distribusi, fungsi kepadatan probabilitas, dan analisis faktor.


Sumber: http://serigalamilita.wordpress.com

Minggu, 06 Oktober 2013

Cara Mudah Belajar Mencintai Matematika

Cara Mudah Belajar Mencintai Matematika




Matematika merupakan pelajaran yang paling ditakuti oleh kebanyakan orang. Hal ini membuat pelajaran yang satu ini dibenci oleh banyak orang. Padahal pelajaran ini benar benar berguna bagi kehidupan kita sehari hari, bahkan bagi orang biasa sekalipun. Para pedagang, tukang Las, tukang bangunan bahkan tukang parkir pun butuh matematika untuk menghitung uang recehan yang ia dapatkan dari pengendara yang memarkirkan kendaraannya. Matematika adalah kunci dari semua pelajaran sains, baik itu Fisika, Ekonomi, Akuntansi dan Kimia karena pelajaran tersebut tidak akan dapat kita pahami tanpa mempelajari terlebih dahulu dasarnya yaitu matematika. Namun yang jadi permasalahan sekarang adalah, bagaimana cara belajar yang baik agar kita dapat menguasai ilmu matematika ini? Harus diingat bahwa tidak cara mudah untuk menguasai matematika ini. Yang ada adalah Cara yang benar dalam belajar matematika. Dibutuhkan kesabaran dan kegigihan yang tinggi untuk berusaha, tapi dengan niat yang kuat saya yakin kita bisa menguasai pelajaran matematika. Ada beberapa tips yang bisa kita tempuh agar kita bisa menguasai Matematika:
 
1. Cintai Matematika

Kalau kita ingin belajar matematika maka yang harus kita lakukan adalah mencintai pelajaran tersebut, karena kalau kita cintai pasti kita akan selalu senang untuk mempelajarinya. Tentunya kalau kita mencintai pelajarannya otomatis kita juga harus senang terhadap guru/dosen pengajarnya. Tetapi ini juga tergantung dari seberapa baik guru/dosen tersebut menyampaikan pelajaran. Image yang sering timbul adalah bahwa guru/dosen matematika selalu killer.

2. Luruskan Niat

Yang berikutnya harus kita lakukan adalah “Meluruskan Niat” dalam belajar matematika, janganlah kita belajar matematika hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus sebagai syarat lulus mata ujian Matematika. Karena hal ini berarti jika kita telah melewati ujian/test, maka kita akan meninggalkan dan melupakan materi yang telah kita pelajari tersebut. Niatkan belajar matematika untuk menambah pengetahuan kita. Karena dengan belajar matematika, daya nalar otak kita akan terasah dengan baik sehingga mudah untuk menerima pelajaran yang lainnya. Ingat sekali lagi, jangan hanya berorientasi kepada Hasil ujian, tapi berorientasilah pada Proses belajarnya.

3. Kenali, Pahami, dan Cintai Keindahan Matematika

Point ini merupakan poin yg paling penting dalam belajar matematika. Akan sangat mudah mempelajari sesuatu jika kita mencintainya terlebih dahulu. Bagaimana mau mencintai matematika jika kita tidak mengenalnya? maka langkah kedua adalah kita harus mengenal apa itu matematika, apa fungsi matematika bagi kehidupan sehari hari. jika kamu sudah mengenalnya, maka kamu akan tahu bahwa matematika memang sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari, contoh sederhananya, ketika tukang bangunan membuat sebuat Fondasi rumah, maka dia harus menghitungnya secara teliti agar pondasinya tidak timpang, maka digunakanlah beberapa rumus matematika. bahkan ketika kita menghitung uang jajan kita, maka kita harus menghitungnya menggunakan matematika bukan? Sungguh tak mungkin kita bisa hidup jauh dari matematika. Maka Tanamkanlah dalam pikiran kita bahwa matematika itu sesuatu yang berguna, indah, menarik dan sebagai teka-teki yang menyenangkan untuk dipecahkan. Jika kita telah mencintainya, Semua rumus yang kelihatannya rumit tiba tiba akan menjadi mudah untuk dipelajari. Begitulah kekuatan cinta, bahkan kotoran kucing pun bisa jadi kue coklat:D

4. Berdoa

Sebelum kita memulai mempelajari matematika, ada baiknya kita berdoa agar Tuhan memberi kemudahan bagi kita untuk memecahkan setiap persoalan yang terdapat di materi yang kita pelajari. Bukankah Tuhan itu Maha Pintar? Maka mintalah kepada-NYA sedikit kepintaran-NYA agar kita bisa memahami materi yang kita pelajari. Selain itu agar kita tetap konsisten dalam belajar dan gigih dalam berusaha, serta tidak mudah putus asa dalam belajar. Jadi doa ini juga termasuk hal yang penting.

4 point diatas akan sangat tidak berguna jika ujung ujungnya kamu tidak mengambil langkah untuk segera belajar dan banyak latihan dengan rajin dan KONSISTEN. terkadang ada masanya kita semangat sekali untuk belajar, namun ada juga masa masa ketika malas sekali untuk belajar. Maka disini butuh kedisiplinan serta kekonsistenan dalam mempelajari matematika. Dalam 1 hari Tidak perlu meluangkan terlalu banyak untuk belajar, cukup sedikit waktu namun tetap kontinyu dan konsisten. Matematika adalah ilmu hitung, tentu akan semakin baik belajar ilmu hitung dengan berlatih menghitung dengan rajin. banyakin latihan membahas soal-soal, karena jika kita sudah terbiasa, maka akan mudah bagi kita untuk menyelesaikan soal yang sama dikemudian hari. Selain itu hal tersebut juga bisa membuat pemahaman kita kepada matematika semakin mendalam.

Setidaknya ada 6 tahap cara belajar yang baik:

  1. Pahami Materi dengan rumus rumusnya
  2. Kelompokan rumus rumus yang ada
  3. Mulai mengerjakan soal-soal yang ada pembahasannya.
  4. Kerjakan soal tadi tanpa liat pembahasan.
  5. Kerjakan soal lain yang tipenya sama.
  6. Terus berlatih soal-soal yang lain.
  7. Jangan hanya belajar dari satu buku, karena biasanya ada buku yang tidak menjelaskan persamaan secara detail sehingga susah untuk dipelajari. Jadi disarankan agar mencari buku referensi yang lain agar semakin mudah dalam mempelajari

tips: jika mengerjakan soal pilihan ganda… pertama baca dulu sebagian jawaban… lalu baca pertanyaannya… lalu lihat lagi jawabannya semuanya…baru cari jawabannya (dengan cara ini… kamu akan tahu maksud soal itu)


  1. Tiada kata “Aku Tak Bisa” dan “Putus Asa”
    Putus Asa merupakan penyakit yang paling sering ditemui setiap orang ketika berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Ketika kita belajar matematika, hindarilah sejauh mungkin kata putus asa, ketika kita menemukan soal yang rumit,maka segera minta bantuan ke guru matematika atau ke teman yang sudah memahami. sebisa mungkin jauhkan diri dari mengucapkan kata “Aku Tak Bisa” karena hal tersebut hanya memperburuk keadaan, ketika kamu merasa bahwa kamu tidak bisa mengerjakannya, maka katakanlah “Aku Pasti Bisa”!! Berilah semangat motivasi untuk diri sendiri, karena setiap permasalahan pasti ada pemecahannya..
  2. Sabar..
    Sabar dalam belajar, sabar dalam memecahkan persoalan, sabar dalam melaksanankan segala sesuatu, orang sabar disayang Tuhan..Tips tips diatas berguna sekali dalam memahami cara belajar matematika yang baik. Kita juga harus mengetahui Cabang Matematika yang sangat perlu kita kuasai. Beberapa cabang yang cukup mendasar dan bermanfaat luas dalam pengembangan ilmu Matematika:

  • Arimatika. Semua hal tentang tambah, kurang, kali, bagi. Cabang Matematika yang paling sering digunakan dalam hidup ini, bahkan oleh orang yang tidak suka Matematika sekalipun! ;)

  • Geometri. Ilmu yang membahas bentuk, bidang, dan ruang suatu benda (terutama luas dan volume). Insinyur dan arsitek yang kompeten pasti menguasai cabang Matematika ini.

  • Aljabar. Manipulasi operasi arimatika untuk mencari suatu nilai yang tidak diketahui (biasanya dinyatakan dalam variabel x dan y). Ahli komputer dan programming termasuk mereka yang wajib menguasai aljabar. Bahkan ketika kecil, einstein mulai belajar matematika dari Aljabar ini.

  • Trigonometri. Cabang matematika yang didedikasikan untuk mempelajari semua properti pada segitiga (terutama sudut dan sisi) beserta manipulasinya. Trigonometri juga harus dikuasai oleh para insinyur dan arsitek.

  • Kalkulus (deret, limit, turunan, differensial, dan integral). Cabang matematika yang WAJIB dikuasai ilmuwan dan insinyur. Ilmu kalkulus mempelajari laju perubahan sesuatu, penjumlahan sesuatu yang banyak sekali menuju suatu nilai pasti, sampai pendekatan yang luar-biasa akurat untuk menghitung sesuatu yang “nyaris” mustahil dipecahkan untuk dihitung menggunakan operasi matematika biasa.


Sumber: http://www.olandsky.com/2013/05/cara-mudah-belajar-mencintai-matematika.html

Semoga bermanfaat..

Kamis, 03 Oktober 2013

6 Penyebab Kegagalan Siswa Lulus UN Matematika

6 Penyebab Kegagalan Siswa Lulus UN Matematika



Berikut ini adalah 6 Penyebab Kegagalan Siswa Lulus Ujian Nasional Pelajaran Matematika atau ketika mau menghadapi ujian matematika.

1. Tidak Belajar Sama Sekali dan Terlalu Percaya Diri
Beberapa siswa sering merasa yakin dengan latihan-latihan yang telah dilakukan sebelumnya. Sehingga pada waktu mendekati ujian mereka tidak belajar sama sekali. Ini merupakan kesalahan fatal yang sering dilakukan siswa.
Meskipun kamu cerdas dan pandai, namun alangkah baiknya jika mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena segala sesuatu bisa terjadi pada waktu ujian. Ingat kerajinan juga berpengaruh terhadap keberhasilan kamu. SUKSES = RAJIN + CERDAS.



2. Belajar Matematika dengan Menghafal dan Tanpa Latihan
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa belajar matematika bukan belajar menghafal. Salah jika kamu belajar matematika tanpa latihan, karena sebenarnya banyak hal yang akan kamu temukan ketika latihan.
Porsi untuk membaca dan latihan menurut saya adalah 20 % untuk membaca konsep dan 80 % untuk latihan. Jangan terlalu banyak membaca konsep karena tidak akan membuat mahir atau terampil mengerjakan soal-soal matematika. Ingat soal-soal matematika bukanlah konsep semata, tetapi lebih banyak soal yang berkaitan keterampilan kamu menggunakan rumus, logika dan menyimpulkan sesuatu.

3. Tidak Teliti
Sayang benar jika kamu bisa mengerjakan sebuah soal matematika dengan lengkap, tetapi kamu merasa kecewa karena setelah keluar dari ruang ujian kamu baru menyadari bahwa jawaban kamu salah pada baris terakhir saja. Kamu sudah mengerjakan dengan susah payah, tetapi karena ketidaktelitian membuat jawaban kamu jadi salah. Misalnya: 1+(-10) menjadi 9, padahal hanya kurang tanda (-) saja, betapa itu sangat mengecewakan jika itu terjadi sama kamu.
Meskipun kamu pintar dan melakukan banyak persiapan, namun jika kamu tidak teliti juga akan percuma. Terlebih jika semua soal adalah soal pilihan ganda, yang ditentukan dengan jawaban benar atau salah saja. Fatal akibatnya jika kamu tidak teliti.

4. Terburu-buru
Banyak siswa yang sering melakukan kesalahan ini. Biasanya kesalahan ini dilakukan karena siswa ingin segera menyelesaiakan soal matematika dengan cepat dan ingin mendapat nilai maksimal. Namun karena terburu-buru banyak kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan. Misalnya ketika mengerjakan soal, ada yang salah, kemudian dihapus, sambil menunggu kemudian mengerjakan soal yang lain. Karena terburu-buru, maka jawaban yang ingin diperbaiki menjadi kosong dan tidak jadi diperbaiki. Fatal bukan?

5. Tidak Memperhatikan Petunjuk Soal dan Lupa Menulis Identitas Diri
Ketika kamu mau mengerjakan soal-soal matematika, sebaiknya membaca terlebih dahulu petunjuk soalnya. Siapa tahu ada aturan atau petunjuk-petunjuk yang baru atau tidak seperti petunjuk sebelumnya. Misalnya skor setipa nomor, skornya 1 atau 4, jika salah -1 dan lain-lainnya.

6. Mengerjakan Tidak dengan Prioritas dan Tanpa Strategi
Kecenderungan siswa dalam mengerjakan soal matematika biasanya cenderung mengerjakan dari nomor 1 dan tidak memperhatikan soal-soal yang lain. Akibatnya jika nomor 1 kebetulan soal yang sulit, maka pada bagian awal kamu sudah membuat kesalahan.
Selain itu kamu akan cenderung emosi saat tidak memperoleh jawabannya. Karena memang ada tipe pembuat soal yang seperti ini, yang digunakan untuk menguji psikologis siswa. Sebaiknya kamu hati-hati dalam menghadapi tipe-tipe soal yang sulit dan ditaruh di bagian awal soal.
Lebih baik lihat terlebih dahulu semua soal, jumlah halaman, lengkap atau tidak, prioritaskan soal-soal yang mudah menurut kamu, baru kemudian mengerjakan soal-soal yang sulit. Setelah itu kamu hitung kemungkinannya berapa soal yang bisa kamu kerjakan.
Sekian dulu pembahasan tentang 6 penyebab kegagalan siswa lulus ujian nasional. Semoga dengan mengetahui penyebab-penyebab diatas, dapat membuat kamu lebih sigap dan tekun lagi dalam belajar. Semoga sukses!


Dikutip dari : banksoalmatematika.com

Minggu, 01 September 2013

Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Sikap pada Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Pantai Cermin

Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Sikap pada Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Pantai Cermin

Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Sikap pada Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Pantai Cermin



Oleh Dra. Hilda Ekayani Lubis

Abstract



The objectives of this study are to investigate whether the students is higher than those students which are taught by using Realistic Learning Approach is higher than using KTSP learning approach, to find out whether the learning achievement of math of the student with high attitude to mathematical is higher than of the students with  low attitude to mathematical, to find out the interaction between the learning approaches and students’ mathematis attitude with math learning achievement.The population in this study is the students of senior High School SMK  in Pantai Cermin in the XI semester, while the sample of this study was four classes of the XI semester which were taken by cluster random sampling. The method of this research was quasy-experiment with 2 x 2 factorial design ; the data were analysed by means of statistical analysis by applying 2 x 2 Anava. The instrument in collecting data of learning achievement was a multiple-choice tes that consisted of 40 items with reliability of  0.867. In Collecting data of mathematical attitude a 30 items test adopted from Rotter was administrated to the students. Before data analyzed used at first tested by analysis rules in normality and homogenity of data. Normality test was using Liliefors test while Homogenity was tested using Bartlett test. The data was analyzed using two ways Anava with α = 0.05 and then using Tukey.The results of the sutdy were: (1) the mean of the learning achievement of the students who were taught by using realistic approach was   = 31.54 higher than those who were taught by using  KTSP learning approach     = 30.24 with F observe = 72.09 > F table = 4.00, (2) the mean of the student with high mathematical attitude was  = 33.72 higher than those with low mathematical attitude  = 28.78 with F observe = 4.17 > F table = 4.00, and there was an interaction between learning approaches and mathematical attitude with math learning achievement with F observe = 14.97  > F table = 4.00. Based on the result of the study, it is concluded that for the students with high  mathematical attitude, realistic learning approach is appropriate, and for those with low mathematical attitude, KTSP learning approach is approriate. The implication of the study is specialized to Math taechers in order that in applying learning approach, they consider the students characteristic (especially mathematical attitude).


A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah, ada banyak masalah yang dihadapi. Salah satu masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia. Namun demikian, sampai saat ini hasilnya belum menggembirakan, kalau tidak mau dikatakan menyedihkan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator hasil belajar, antara lain dalam Ujian Nasional (UN), temuan sejumlah penelitian, dan kontes internasional matematika seperti yang dilaporkan oleh The Third International Mathematics and Science Study,  Bansu (2009: 1). Menurut Niss  yang dikutip oleh Hadi (2005: 3) salah satu alasan utama diberikan matematika kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada setiap individu pengetahuan yang dapat membantu mereka untuk mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan social, dan kehidupan sebagai warga negara.
Menurut Galilei yang dikutip Sriyanto (2007: 3) alam semesta itu bagaikan sebuah buku raksasa yang hanya bisa dibaca jika orang mengerti bahasanya, akrab dengan lambang dan huruf yang dipakai di dalamnya, dan bahasa alam semesta itu tidak lain adalah matematika. Namun matematika sering dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian besar siswa karena matematika cenderung dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Sebagian besar siswa menunjukkan hasil yang kurang memuaskan dalam prestasi belajar matematika dan mengakibatkan sikap siswa terhadap matematika itu beragam. Siswa yang memiliki kemampuan dibidang matematika akan tertarik mempelajarinya, sedangkan yang kurang kemampuannya mengakibatkan rasa pesimis dan tidak tertarik. Padahal sudah tidak disangsikan lagi bahwa matematika memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan manusia.
Rendahnya hasil belajar matematika tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor eksternal adalah pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, guru matematika mungkin perlu melakukan introspeksi terhadap cara mengajarnya. Karena kadang-kadang kebencian siswa terhadap matematika tidak pada matematika itu sendiri, tetapi pada cara mengajar di kelas. Agar kita bisa mengajar matematika dengan baik dan menyenangkan, mungkin kita perlu belajar bagaimana mencintai matematika. Sedangkan yang merupakan faktor internal diantaranya adalah motivasi berprestasi siswa.  Faktor luar misalnya peranan guru, ingin mendapat manfaat praktis dari pelajaran, ingin mendapat penghargaan dari teman terutama dari guru, ingin mendapat nilai yang baik sebagai bukti “mampu berbuat”. Sedangkan faktor luar mencakup lingkungan sosial yang membangun dalam kelompok, lingkungan fisik yang memberi suasana nyaman, tekanan, kompetesi, termasuk fasilitas belajar yang memadai, membangkitkan minat, motivasi berprestasi dan sebagainya.
Pendekatan pembelajaran yang dipilih hendaknya sesuai dengan metode, media dan sumber belajar lainnya yang dianggap relevan dalam menyampaikan informasi, dan membimbing siswa agar terlibat secara optimal, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar dalam rangka menumbuhkembangkan kemampuannya, seperti : mental, emosional, dan sosial serta keterampilan atau kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan demikian pemilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai dapat membangkitkan dan mendorong timbulnya aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tertentu. Setiap satuan pendidikan berhak mempergunakan pendekatan pembelajaran yang sengaja dipilih untuk meningkatkan prestasi siswa.
Untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan dibutuhkan suatu pendekatan pembelajaran yang mampu untuk lebih memberdayakan siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, penulis memilih pendekatan pembelajaran realistik sebagai pilihan dalam penelitian ini. Pendekatan pembelajaran realistik menekankan pentingnya konteks nyata yang dikenal siswa dan proses kontruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri. Pendekatan pembelajaran matematika realistik merupakan suatu pendekatan yang menjanjikan dalam pembelajaran matematika. Berbagai literatur menyebutkan bahwa pembelajaran matematika realistik berpotensi meningkatkan pemahaman matematika siswa. Dalam pembelajaran matematika realistik siswa tidak dipandang sebagai botol kosong yang harus diisi dengan air. Sebaliknya siswa dipandang sebagai human being yang memiliki seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, siswa juga memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan tersebut bagi dirinya. Di dalam pembelajaran matematika diakui bahwa siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman matematika apabila diberikan ruang dan kesempatan untuk itu. Siswa dapat merekonstruksi kembali temuan-temuan dalam bidang matematika melalui kegiatan dan eksplorasi berbagai permasalahan, baik permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (daily life problems) maupun permasalahan di dalam matematika sendiri (mathematical problems).
Hadi (2005: 38) mengatakan bahwa Pembelajaran Matematika Realistik  mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut : 1) siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya, 2) siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri, 3) pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan, 4) pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman, dan 5) setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik.
Paradigma baru pendidikan menyarankan pembelajaran aktif (active learning). Sebagaimana peribahasa China yang menyatakan : “Saya dengar, maka saya lupa; saya lihat, maka saya ingat; saya lakukan, maka saya mengerti “. Dalam hal ini guru harus menghindari memberikan ceramah, tetapi harus mampu menciptakan dan mengembangkan pengalaman belajar yang mendorong aktivitas siswa. Bahkan di dalam Pembelajaran Matematika Realistik diharapkan siswa tidak sekedar aktif (sendiri), tetapi ada aktivitas bersama diantara mereka. Negeri Belanda adalah pionir dalam PMR, terutama berdasarkan hasil penelitian dan karya Institut Freudenthal. Kemudian di Amerika Serikat sejumlah sekolah mulai menggunakan materi kurikulum Pembelajaran Matematika Realistik yang dikembangkan atas kerja sama antara University of Wisconsin dan Institut Freudenthal melalui proyek yang disebut MiC (Mathematics in Context).
Menurut Gravemeijer yang dikutip oleh Hadi (2005: 9), salah satu sebab mengapa pembelajaran matematika realistik diterima di banyak negara adalah karena konsep PMR itu sendiri. Berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal, dalam PMR matematika dianggap sebagai aktivitas insani (mathematics as human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Menurut filsafat PMR siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika di bawah bimbingan guru, dan penemuan kembali ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai persoalan dan situasi dunia nyata, (Hadi, 2005: 9). Selanjutnya, di dalam PMR proses belajar memainkan peranan yang penting. Menurut Gravemeijer yang dikutip oleh Hadi (2005: 10), rute belajar (learning route), di mana siswa dapat menemukan hasil berdasarkan usaha mereka sendiri, harus dipetakan. Dengan demikian, dalam PMR guru harus mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka sendiri.
Perbaikan proses pembelajaran di kelas dapat dititikberatkan pada aspek kegiatan belajar mengajar. Aspek ini terkait langsung dengan tanggung jawab guru dalam membina subjek didik menjadi lebih termotivasi untuk belajar sekalipun dengan dukungan yang minimal dari guru tanpa perlu diceramahi. Konsep ini berasal dari acuan bahwa tidak ada siswa yang bodoh, dan pengalaman membuktikan bahwa keterbelakangan hanya terjadi jika subjek tersebut malas bekerja.  Disamping pendekatan pembelajaran, Merril (1979) berpendapat bahwa karakteristik siswa merupakan kondisi pengajaran yang harus dijadikan pijakan dalam mengembangkan dan menetapkan pendekatan pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Lebih lanjut Dick & Carey (2005) mengatakan bahwa seorang guru hendaknya mampu untuk mengenal dan mengatahui karakteristik siswa, sebab pemahaman yang baik terhadap karakteristik siswa akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa, karena jika seorang guru dapat mengetahui karakteristik siswanya, maka selanjutnya guru dapat menyesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini  dilakukan di SMK Negeri 1 Pantai Cermin, Jalan Menang No. 1 Pantai Cermin pada semester genap tahun ajaran 2009/2010, dalam rentang waktu 10 (sepuluh) kali pertemuan dihitung mulai dari pemberian tes awal dan tes akhir pembelajaran yang berlangsung selama 2 bulan terhitung mulai Maret – Mei 2010. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampel kelompok secara acak (cluster random sampling) yakni dari 5 kelas dipilih 2 kelas sebagai sampel yang dikenakan perlakuan melalui pemilihan secara acak. Untuk menentukan jenis perlakuan pada setiap kelas dilakukan secara undian dan hasilnya diperoleh kelas XI Adm Perkantoran 2 (35 orang) menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan kelas XI Adm Perkantoran 1 (35 orang) menggunakan pendekatan dalam KTSP, maka jumlah sampel penelitian adalah 70 orang.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (kuasi eksperimen) dengan desain faktorial 2 x 2. Melalui desain ini akan dibandingkan pengaruh pendekatan pembelajaran matematika realistik dan  KTSP terhadap hasil belajar matematika. Pendekatan pembelajaran matematika realistik dan  KTSP diperlakukan kepada kelompok eksperimen siswa dengan sikap matematika yang berbeda. Pendekatan pembelajaran matematika sebagai variabel  bebas, perbedaan sikap terhadap pelajaran matematitika sebagai variabel moderator dan perolehan hasil belajar dalam mata diklat matematika sebagai variabel terikat.
Sebelum dilaksanakan perlakuan terlebih dahulu ditinjau faktor-faktor kesamaan dari kedua kelompok eksperimen yaitu kesamaan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk meyakinkan kedua kelompok eksperimen mempunyai karakteristik yang dianggap sama, kecuali faktor perlakuan pendekatan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran antara lain faktor  tujuan pembelajaran, guru, situasi, kondisi kelas dan metode pembelajaran. Dalam penelitian ini tujuan yang akan dicapai kedua kelas eksperimen adalah yang sesuai dengan yang dirumuskan dengan kurikulum 2006 mata pelajaran matematika.
(1)
Pada pelaksanaan perlakuan, di dalam memberikan pembelajaran tidak dibedakan antara kelompok siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi dan sikap terhadap matematika rendah. Pengelompokannya hanya dilakukan pada analisis data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif dan Inferensial. Teknik statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data, antara lain : nilai rata-rata (mean), median, modus, standard deviasi  dan kecenderungan data. Teknik statistik inferensial  digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, dimana teknik inferensial yang akan digunakan adalah teknik Analisis Varians (ANAVA) dua jalur (desain faktorial 2 x 2) dengan taraf signifikan 0,05 (Usman,2006: 158). Sebelum anava dua jalur dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas menggunakan Uji Liliefors, dan untuk uji persyaratan homogenitas menggunakan Uji Bartlett.

C.  Hasil Penelitian Dan Pembahasan

a. Hasil Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis varians faktorial 2 x 2. Rangkuman hasil perhitungan Anava dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel. 1. Rangkuman Anava Faktorial 2 x 2
Berdasarkan rangkuman di atas maka akan dirinci pengujian hipotesis sebagai berikut:

  1. 1.      Hipotesis Pertama

Pengujian hipotesis pertama yang berbunyi: hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pendekatan dalam  KTSP. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho1 : µA1 = µA2
Ha1 : µA1 > µA2

Hasil Anava menunjukkan diantara kedua rata-rata tersebut terdapat perbedaan yang signifikan pada p < 0,05 karena Fhitung = 72,09 sedangkan Ftabel = 4,00.  Berdasarkan perhitungan Anava diperoleh Fhitung = 72,09 sedangkan nilai Ftabel = 4,00 untuk dk (1,60) dan taraf nyata α = 0,05, ternyata Fhitung = 72,09 > Ftabel = 4,00 sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan dalam  KTSP.

  1. 2.      Hipotesis Kedua

Pengujian hipotesis kedua yaitu : hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho2 : µB1 = µB2
Ha2  : µB1 > µB2

Hasil Anava menunjukkan bahwa diantara kedua rata-rata tersebut terdapat perbedaan yang signifikan pada p = 0,05 karena Fhitung = 4,17 lebih besar dari Ftabel = 4,00, sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika rendah

  1. 3.      Hipotesis Ketiga

Pengujian hipotesis ketiga yaitu: terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika dalam mempengaruhi hasil belajar matematika. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho3 : A X B = 0
Ha3 : A X B ≠ 0

Berdasarkan perhitungan Anava diperoleh Fhitung = 14,97, sedangkan nilai Ftabel = 4,00 untuk dk (1,60) dan taraf nyata α = 0,05, ternyata Fhitung = 14,97 > Ftabel = 4,00 sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat interaksi anatara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika dalam mempengaruhi hasil belajar matematika dapat diterima dan terbukti secara empirik.  Untuk mengetahui perbedaan antara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika terhadap hasil belajar matematika, maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Tukey karena jumlah sampel sama ( n sama ). Rangkuman perhitungan Uji Tukey adalah sebagai berikut.

Tabel.2. Rangkuman Uji Tukey

Secara keseluruhan hasil Uji Tukey menunjukkan dari enam kombinasi perbandingan rata-rata hasil belajar matematika, maka berdasarkan Tabel 21. terdapat satu dari enam kombinasi yang dibandingkan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun demikian terdapat interaksi pendekatan pembelajaran yang memiliki sikap matematika terhadap hasil belajar matematika, hal ini terlihat dari: (a) pendekatan pembelajaran matematika realistik memberikan hasil belajar yang lebih tinggi pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah, dan (b) pendekatan dalam  KTSP memberikan hasil belajar yang lebih tinggi pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah, juga terbukti. Hal ini diketahui dari rata-rata skor siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan matematika realistik pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi ( = 35,50 ) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah ( = 26,88 ) dan rata-rata skor siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi ( = 32,13 ) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah ( = 29,25 ).
Hasil pengujian uji lanjut di atas, menunjukkan adanya interaksi antara pendekatan pembelajaran dan sikap matematika terhadap hasil belajar matematika Siswa SMK Negeri 1 Pantai Cermin .

b.  Pembahasan Hasil Penelitian

  1. 1.      Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Dan Siswa Yang Diajar Dengan Pendekatan Pembelajaran Dalam  KTSP

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Becher dan Seller yang dikutip Hadi (2005) penerapan pembelajaran realistik menghasilkan prestasi akademik yang lebih tinggi untuk seluruh siswa, kemampuan lebih baik untuk mengeluarkan ide dan diharapkan untuk sharing ide-idenya artinya mereka bebas mengkomunikasikan idenya satu sama lain. Demikian juga dengan penelitian Hadi (2005) yang menyatakan bahwa siswa senang pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Lain halnya dengan pendekatan dalam KTSP. Pendekatan dalam  KTSP harus terlebih dahulu diorganisasikan sedemikian rupa yang dimulai dari menyampaikan tujuan dan memotivasi, menyajikan informasi serta mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar. Selain itu proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan dalam  KTSP materi pelajaran matematika kurang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih baik digunakan dalam pembelajaran matematika daripada pendekatan dalam  KTSP.

  1. 2.      Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Dengan Sikap Matematika Tinggi Dan Siswa Dengan Sikap  Matematika Rendah

Hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik dibandingkan dengan sikap  matematika rendah karena siswa yang memiliki sikap   matematika tinggi mampu menggunakan konsep dalam menganalisis suatu informasi yang diterima. Siswa dengan sikap matematika tinggi mampu belajar sendiri dan selalu ingin mengetahui sebab-sebab dari suatu persoalan atau masalah. Sedangkan siswa yang memiliki sikap matematika rendah sangat tergantung dengan petunjuk atau prosedur yang lengkap dan teratur dalam menemukan dan memecahkan masalah dalam belajar matematika. Dengan kata lain siswa yang memiliki sikap matematika rendah tidak siap kalau belajar menemukan sendiri, cenderung suka belajar berkelompok.
Menurut Rensis Likert yang dikutip Saefuddin (2008), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap merupakan salah satu faktor yang menentukan bentuk perilaku. Sikap siswa terhadap matematika dapat berupa sikap positif yang dapat membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya, sedangkan sikap negatif tidak dapat membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan tidak dapat membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya. Pembelajaran peluang selama ini sangat bertentangan dengan prinsip belajar matematika, dimana mengharuskan siswa mempelajari matematika dengan pemahaman. Hal ini karena matematika bersifat hirarkis, yaitu materi matematika itu tersusun rapi, ada urutan-urutannya mulai yang rendah ke tinggi atau dari yang tinggi ke yang rendah. Hal ini yang membedakan matematika dengan ilmu lain karena pengertian/konsep atau pernyataan/sifat matematika terjaga konsistennya. Implikasinya pemahaman pada suatu konsep akan mempengaruhi pemahaman pada konsep berikutnya yang berkaitan. Pemahaman dikatakan terjadi jika pengetahuan yang ada dalam otak menjadi satuan-satuan yang terkoneksi satu dengan yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Andersen, J.R., et al (2000) bahwa pengetahuan dibangun melalui konstruksi pengetahuan di otak siswa sehingga terbentuk hubungan dan saling keterkaitan antara materi. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme yang diharapkan dalam KTSP.
Berdasarkan uraian di atas tampak penyebab perbedaan dan hasil belajar matematika antara siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dan siswa yang memiliki sikap  matematika rendah.

  1. 3.      Interaksi Antara Pendekatan Pembelajaran Dengan Sikap Terhadap Matematika Dalam Mempengaruhi Hasil Belajar Matematika

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga, ternyata ada interaksi antara Pendekatan Pembelajaran dan Sikap terhadap matematika dalam mempengharuhi hasil belajar matematika. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Pendekatan pembelajaran matematika realistik memberikan pengaruh lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika bila digunakan kepada kelompok siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dibandingkan bila digunakan pada kelompok siswa yang memiliki sikap matematika rendah.  Hal ini dapat terjadi karena pendekatan pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Fredeunthal yang menjelaskan bahwa matematika dipandang sebagai aktivitas manusia. Pendekatan pembelajaran realistik sangat berpusat pada kemampuan siswa dalam menemukan jawaban dari suatu persoalan yang ada dilingkungannya dalam pelajaran matematika dan menekankan pada langkah-langkah berpikir mulai dari mengamati sampai kepada mendeskripsikan dan melaporkan hasil perolehannya untuk mencapai penyelesaian. Situasi pembelajaran yang demikian memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika pada kelompok siswa yang memiliki sikap  matematika tinggi dibanding dengan siswa yang memiliki sikap matematika rendah.
Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan, bahwa hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dan dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik  lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memiliki sikap matematika rendah dan dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Becher dan Seller (Hadi, 2005) data menunjukkan pembelajaran realistik telah telah terbukti merangsang penalaran dan kegiatan berpikir siswa. Pendekatan pembelajaran matematika realistik sangat memungkinkan merangsang penalaran dan kegiatan berpikir karena permasalahan dalam matematika dipandang sebagai aktivitas manusia. Pemanfaatan lingkungan yang dipahami siswa dalam belajar memungkinkan siswa lebih tertarik untuk mempelajarinya yang akhirnya berpengaruh positif terhadap hasil belajarnya.
Hasil temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengajarkan materi matematika khusus pokok bahasan Peluang untuk kelas XI SMK lebih baik menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik daripada dengan pendekatan dalam  KTSP. Hal ini didukung oleh penelitian Saragih (2007) menyimpulkan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran berdasarkan pendekatan pembelajaran matematika realistik mempunyai hasil belajar yang labih baik dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran berdasarkan pendekatan dalam  KTSP.
Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matemati cukup signifikan mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.

D. Simpulan, Implikasi Dan Saran

  1. a.      Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan di bawah ini:
Pertama,  pendekatan pembelajaran realistik dan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP memberi pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar matematika. Pendekatan pembelajaran realistik memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika dibandingkan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Maka penggunaan pembelajaran realistik lebih efektif digunakan daripada pendekatan pembelajaran dalam  KTSP dalam meningkatkan hasil belajar matematika.
Kedua, sikap matematika tinggi dan sikap matematika rendah memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah.
Ketiga, hasil perhitungan analisis varians menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran realistik dengan sikap terhadap matematika, dimana siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran realistik dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP, sedangkan siswa yang memiliki sikap matematika rendah lebih baik diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran realistik.

  1. b.      Implikasi
Dari hasil simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat diketahui  bahwa pendekatan pembelajaran realistik ternyata lebih efektif digunakan dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMK dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Pada pendekatan pembelajaran realistik guru sebagai fasilitator, artinya guru dapat diharapkan menyediakan bermacam-macam masalah kontekstual tentang materi untuk mendorong siswa menemukan konsep atau prosedur yang termuat didalamnya, sedangkan siswa mengurangi ketergantungan aktivitasnya dalam menyelesaikan soal. Pembelajaran cenderung berpusat pada siswa, melalui pembelajaran matematika realistik siswa memiliki kebebasan dalam menentukan cara untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan hasil belajar matematika karena : 1) penggunaan masalah-masalah kontekstual, 2) mengaitkan sesama topik  dalam matematika, 3) penggunaan metode interaktif dalam pembelajaran matematika, dan 4) penghargaan setiap jawaban. Pembelajaran matematika dalam KTSP, penyampaian materi tidak masalah kontekstual yang ada disekitar siswa, sehingga siswa sulit membayangkan masalah yang mereka hadapi. Pada pendekatan pembelajaran dalam  KTSP fase-fgase yang dilakukan guru adalah: 1) menyajikan tujuan dan memotivasi siswa, 2) menyajikan informasi yang akan dipecahkan siswa, 3) mengorganisasikan dan membimbing dalam kelompok-kelompok belajar, dan 4) melakukan evaluasi dan memberi penghargaan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, ternyata peranan sikap terhadap matematika sangat berpengaruh dalam peningkatan hasil belajar. Akan tetapi hasil belajar yang diperoleh tidak merata, ini disebabkan kelas siswa yang diajar memiliki dua sikap pada matematika, yaitu sikap matematika tinggi dan sikap matematika rendah. Oleh karena itu guru harus dapat menumbuhkan sikap terhaqdap matematika dalam pembelajaran matematika dengan cara: 1) memberi rangsangan dalam pembelajaran matematika, 2) pendekatan pembelajaran yang bervariasi, 3) penggunaan bermacam-macam buku pelajaran, dan 4) suasana belajar yang kondusif.
Siswa dengan sikap matematika tinggi, tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menemukan jawaban. Dengan demikian maka siswa yang selalu melatih dirinya secara terus menerus akan dapat menemukan prosedur kerja yang sistematis yang pada gilirannya siswa akan terbiasa dan berlatih untuk memecahkan masalah-masalah. Dengan demikian konsekuensinya apabila siswa dengan sikap matematika rendah tentu akan rendah pula pencapaian hasil belajar matematika, sebaliknya siswa dengan sikap matematika tinggi maka tingkat pencapaian hasil belajar matematika lebih tinggi.
Konsekuensi logis dari pengaruh sikap matematika terhadap hasil belajar matematika berimplikasi kepada guru pengampu mata pelajaran matematika untuk melakukan identifikasi dan prediksi di dalam menentukan sikap matematika yang dimiliki siswa. Apabila sikap terhadap matematika siswa dapat dikelompokkan maka guru dapat menerapkan rencana-rencana pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa, disamping itu juga guru dapat melakukan tindakan-tindakan lain misalnya untuk siswa yang memiliki sikap matematika tinggi diberikan materi-materi pengayaan dan soal-soal latihan dengan tingkat kesukaran yang lebih tinggi sedangkan untuk siswa dengan sikap matematika rendah diberikan materi-materi remedial yang bertujuan memberikan pemahaman dan penguasaan kepada siswa terhadap materi pelajaran. Dengan demikian siswa diharapkan mampu membangun dan menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya dalam menyelesaikan persoalan belajar untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Disamping itu siswa diharapkan mampu untuk meningkatkan retensinya dengan cara menemukan materi-materi penting bukan karena diberitahukan oleh orang lain (guru).
Implikasi dari perbedaan karakteristik siswa dari segi sikap matematis mengisyaratkan guru dalam memilih pendekatan pembelajaran harus mempertimbangkan sikap terhadap matematika siswa. Dengan adanya sikap terhadap matematika dalam diri siswa akan berperan terhadap reaksi positif atau negatif yang akan dilakukannya dalam merespon suatu ide, gagasan atau situasi tertentu dalam pembelajaran yang berlangsung. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran yang diterapkan guru akan efektif atau tidak tentunya tergantung dari karakteristik siswa. Adanya perbedaan sikap terhadap matematika ini juga berimplikasi kepada guru di dalam memberikan motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Bagi siswa dengan sikap matematika tinggi hal tersebut tidaklah menjadi sebuah kesulitan bagi guru dalam motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, tetapi bagi siswa dengan sikap matematika rendah maka guru perlu memberikan perhatian yang lebih dan kontinu di dalam memberikan motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Dapatlah dimaklumi bahwa pemberian motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa akan efektif apabila hubungan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa tercipta dan terjalin secara kondusif sebelumnya. Secara khusus bagi siswa-siswa yang berkesulitan belajar maka guru matematika dapat bekerja sama dengan guru bimbingan dan konseling (BK) untuk menanginanya.
Perbedaan sikap terhadap matematika ini juga berimplikasi kepada guru di dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Tindakan yang dapat dilakukan guru adalah dengan menerapkan konsep belajar tutorial sesama murid dimana guru mengarahkan dengan membentuk kelompok belajar atau kelompok diskusi di dalam kelas dimana siswa yang dengan sikap matematika tinggi memberikan bantuan kepada siswa dengan sikap matematika rendah, dengan demikian kegiatan pembelajaran bagi siswa dengan sikap matematika rendah dapat terbantu dalam memahami materi pelajaran.
Pembelajaran matematika realistik cukup efektif bagi siswa yang memiliki sikap matematika tinggi tetapi tidak efektif bagi siswa yang memiliki sikap matematika rendah, dikarenakan pada pembelajaran matematika realistik guru berperan sebagai fasilitator dan materi yang disajikan dalam pembelajaran memahami, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah kontekstual yang menuntut ketekunan dan keuletan yang tinggi. Bagi siswa yang memiliki sikap matematika rendah, pembelajaran matematika dalam  KTSP cukup efektif dikarenakan pada proses pembelajaran siswa dikelompokkan dan akan menjadi tutor sebaya, sehingga siswa yang memiliki sikap matematika rendah lebih leluasa belajar kepada teman sebaya yang lebih memahami persoalan yang sedang dibahas.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi pendekatan pembelajaran dan sikap pada matematika terhadap hasil belajar. Interaksi tersebut terindikasi dari siswa dengan sikap matematika tinggi dan dibelajarkan dengan pendekatan realistik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Sedangkan bagi siswa dengan sikap matematika rendah yang diajar dengan pendekatan realistik tidak lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Dengan demikian dapat dipahami bahwap pendekatan realistik lebih tepat digunakan bagi siswa yang memiliki karakteristik sikap matematika tinggi, sedangkan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP lebih tepat digunakan bagi siswa dengan karakteristik sikap matematika rendah.
Hasil penelilitan juga menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar matematika dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan sikap terhadap matematika yang dimiliki siswa. Dalam hal ini antara guru dan siswa yang mempunyai peranan yang sama dan berarti dalam meningkatkan hasil belajar matematika itu sendiri, sehingga dengan demikian untuk mencapai hasil belajar yang maksimal maka kedua variabel tersebut yaitu pendekatan pembelajaran dan sikap matematis perlu menjadi perhatian sekaligus.
Selanjutnya secara khusus temuan pada penelitian ini memberikan implikasi kepada :
Pertama, Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai, agar melakukan pendidikan dan pelatihan pendekatan realistik terhadap guru-guru matematika karena melalui penelitian yang dilakukan ini ditemukan bahwa guru matematika yang ada di SMK Negeri 1 Pantai Cermin belum mengenal pendekatan pembelajaran realistik. Hal ini terindikasi ketika peneliti mengadakan penelitian mengenai pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika, maka para guru bertanya seperti apa pembelajaran realistik tersebut dan bagaimana melaksanakan di kelas. Langkah lain yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kemampuan guru terhadap penguasaan pembnelajaran realistik yang dapat dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai jika alternatif  pertama yaitu melaksanakan pendidikan dan pelatihan tentang pendekatan realistik tidak dapat dilaksanakan karena mungkin keterbatasan anggaran adalah dengan memberikan bantuan berupa penyaluran buku-buku tentang pembelajaran realistik ke sekolah-sekolah agar dapat dipelajari guru-guru. Diharapkan melalui penyaluran buku-buku tersebut guru-guru dapat mempelajarinya dan mendiskusikannya secara bersama-sama di sekolah untuk kiranya dapat diterapkan dalam kegaiatan pembelajaran di kelas.
Kedua, temuan penelitian ini memberikan implikasi kepada pengawas rumpun mata pelajaran matematika yang ada di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai, dimana menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang pengawas rumpun mata pelajaran matematika untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada guru-guru yang berada di bawah pengawasannya tentang peningkatan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika karena melalui penelitian ini telah terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika.
Ketiga, temuan ini berimplikasi kepada penyelenggara sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Sebagaimana diketahui bahwa penerapan pendekatan pembelajaran yang cukup memadai, untuk itu ketersediaan alat-alat atau media pembelajaran yang dipergunakan dalam pembelajaran menjadi tanggung jawab penyelenggara sekolah secara umum dan guru secara khusus. Untuk itu diharapkan penyelenggara sekolah menyediakannya atau paling tidak berupaya mengusahakannya melalui permintaan kepada instansi terkait atau bisa juga dilakukan pemenuhan alat-alat atau media pembelajaran itu dianggarkan dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS).
Keempat, temuan penelitian ini  juga memberikan implikasi kepada penulis/pengarang buku matematika agar kiranya dapat menyajikan pendekatan realistik dalam penerbitan buku pada tahun-tahun yang akan datang sehingga guru dan siswa menemui variasi pendekatan pembelajaran yang berbeda dalam pembelajaran matematika.

  1. c.       Saran – Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi seperti yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disarankan beberapa hal berikut:
  1. Kepada pihak sekolah SMK Negeri 1 Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai, hendaknya mengadakan pelatihan guna meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika relaistik kepada guru-guru bidang studi matematika, hal ini dilakukan karena belum semua guru-guru yang mengetahui pendekatan realistik.
  2. Kepada guru-guru hendaknya lebih kreatif untuk mendapatkan informasi tentang pendekatan realistik, misalnya dengan mengikuti diskusi ilmiah, seminar-seminar, mencari bahan melalui internet dan lain-lain sehingga guru tersebut dapat menyusun skenario pendekatan pembelajaran realistik.
  3. Guru sebaiknya menyajikan bermacam-macam masalah kontekstual tentang materi pembelajaran untuk dapat mendorong siswa menemukan konsep atau prosedur yang termuat didalamnya. Sedangkan siswa belajar sendiri menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi
  4. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematis tinggi, pendekatan pembelajaran matematika realistik ini sebagai salah satu alternatif yang sesuai dengan karakteristik siswa tersebut, disamping itu dengan pendekatan pembelajaran realistik ini siswa akan lebih terlatih dan terbiasa memahami dan menyelesaikan masalah-masalah kontekstual yang berada dilingkungannya demikian juga disarankan bagi guru untuk menggunakan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP untuk membelajarkan siswa yang memiliki sikap matematis rendah agar hasil belajarnya lebih tinggi
  5. Materi pelajaran matematika hendaknya dikaitkan dengan masalah-masalah kontekstual yang ada disekitarnya, pendekatan pembelajaran realistik ini merupakan pendekatan pembelajaran yang tepat agar hasil belajar matematika siswa lebih tinggi
  6. Untuk penelitian lanjutan, pendekatan pembelajaran realistik sebaiknya dipadukan dengan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP, sehingga dengan gabungan kedua pendekatan ini diharapkan hasil belajar matematika akan lebih baik
  7. Dinas pendidikan dapat membantu para guru khususnya guru matematika melalui orang-orang yang berkompeten dalam mengembangkan dan mendesain pendekatan pembelajaran demi meningkatkan keefektifan pembelajaran. Agar para guru dapat terangsang untuk berkreasi dan mengadakan inovasi dalam mencari serta menentukan pendekatan pembelajaran

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Angkowo,R. (2007). Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: Grasindo

Ansari, I. Bansu. (2009). Komunikasi Matematik Konsep dan Aplikasi. Banda Aceh : Yayasan Pena

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineke Cipta.

Arikunto, S. (2008). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Atmodiwirio, S. (2002). Manajemen Pelatihan. Jakarta : PT. Ardadizya Jaya.

Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Azwar, Saifuddin. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Brannen, J. (2005). Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Samarinda: Fakultas

Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda

Dahar,R.W. (1998). Teori-Teori Belajar. Bandung : Erlangga.

Dick,W. and Carey, L. (2005). The Systematic Design of Instruction. Florida : Harper Callins Publisher.

Djamarah, S.B. dan Zein. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Emzir. (2007).  Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Farikhin. (2007). Mari Berpikir Matematis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Fathani, A. H. (2008).  Pembelajaran Realistik, Atasi Fobia Matematika. Online, tersedia http://husniabdillah.multiply.com/journal/item/9

Fathani, A.H. (2009). Matematika Hakikat & Logika. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Fauzi, Muhammad Amin. (2004). Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (Problem Posing) dalam Pembelajaran Matematika Realistik Pokok Bahasan Pembagian Bilangan di Kelas IV SDN 060857 Medan. Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan Volume: 11 Nomor: 2 Maret 2005 Hal. 173 – 184.

fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.worpress.com.

Hadi, S. (2005). Pendidikan Matematika Realistik. Banjarmasin. Penerbit Tulip.

Haji, S. (2005). Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadap Matematika di Sekolah Dasar. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Hamalik,O. (2008). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Hasibuan,J.J. (2008). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jihad, A. (2008). Pengembangan Kurikulum Matematika. Yogyakarta : Multi Pressindo.
Jurnalisme Seribu Mata BASIS. (2009). Pelajaran Matematika Yang Menakutkan. Edisi Khusus Pendidikan Matematika. Jakarta: Yayasan BP Basis.

Miarso,Y,dkk. (2007). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Prenada Media

Muhaimin,H. (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah & Madrasah. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Mulyasa,H.E. (2009). Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara

Muslich, M. (2008). KTSP Dasar Pemahaman Dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution. (1999). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Nasution, S. (2008). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Nazir, Moh. (2003). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Pidarta,M. (2007). Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sadiman,A.S. (1986). Media Pendidikan. Jakarta:  RajaGrafindo Persada

Saragih, S. (2007). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis dan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pendekatan Matematika Realistik.. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Sanjaya,W. (2008). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

__________, (2008). Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

__________, (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Sa’ud, Saefuddin Udin. (2008). Inovasi Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Singarimbun, M. (2006). Metode Penelitian Survai. Jakarta. LP3ES

Sibuea, A.M. (1987). Hubungan Antara Sikap Mandiri, Pengetahuan Kewirausahaan dan Motivasi Berwiraswasta dengan Sikap Berwiraswasta Siswa-Siswa STM Di Kota Madya Medan. Tesis Fakultas PascaSarjana IKIP Jakarta.

Sudjana,N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sudjana. (2005) Metoda Statistika. Bandung : PT. Tarsito.

Sriyanto,HJ. (2007). Strategi Sukses Menguasai Matematika. Yogyakarta : Indonesia Cerdas

Stone, R. (2009). Cara-Cara Terbaik Mengajarkan Matematika. Jakarta: Indeks

Sudijono, A. (2008). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sugamin, Dkk. (2009). Mathematis Problem Solving in Realistic Mathematics. Jurnal Pendidikan Matematika. Volume: 2 Nomor: 1 Edisi Juni 2009 Medan Hal. 179 – 190.

Sugiyono, (2009). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2008). Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Suparman, A.M. (2001). Desain Instruksional. Jakarta : Universitas Terbuka

Soeharto, K. (2003). Teknologi Pembelajaran. Surabaya: SIC

Suriasumantri,J,S. (2005). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Suryabrata,S. (2004). Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Tim MKPBM Matematika. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Triyanto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Propresif. Surabaya: Kencana Renada Media Group

Tuckman, B. W (1978). Conducting Educational Research. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

Turmudi. (2008). Landasan Filsafat dan Teori Pembelajaran Matematika. Jakarta : Leuser Cita Pustaka.

Uno,H. B. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

, (2009). Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Usman, H. (2006). Pengantar Statistika. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Remaja Rosdakarya.

Winkel.W.S. (1999). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yamin, M. (2008). Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta : Gaung Persada Press.

Zainuri. (2007). Pembelajaran Matematika Realistik, http://zainurie.wordpress.com/2007/04/13/pembelajan-matematika realistik

Zuriah, N. (2009). Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara




Sumber: http://www.infodiknas.com