Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Trik Agar Anak Jago Matematika, Begini Cara Mengajarinya!

Trik Agar Anak Jago Matematika, Begini Cara Mengajarinya!




Anak-anak sekarang belajar angka dan huruf lebih cepat dibanding zaman dulu. Ada banyak cara mengajarkan balita untuk mengenal angka dengan cara menyenangkan agar kelak menjadi matematikawan yang efektif. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dan permainan yang bisa dijalankan para orangtua dalam mengajari belajar bilangan dan menghitung.

Agar proses belajar itu menyenangkan dan menarik, laman Boldsky, Kamis (7/11/2013), berbagi tips untuk memulai hal yang menyenangkan:

1. Buatlah gambar

Ini adalah cara paling umum yang bisa dilakukan orangtua saat mengajarkan angka ke balita. Di rumah Anda bisa membuat gambar angka dan membantu anak terbiasa dengan angka-angka.

Anda bisa melakukannya dengan berbagai cara. Anda bisa menuliskan nomor satu dan menggambarkan lagi yang bentuknya sama. Ini bisa membantu si kecil mengenal angka dalam cara berbeda.

2. Pasangkan angka

Cara sederhana ini bisa membantu balita Anda memiliki hubungan alami dengan angka dan mencocokkan angka yang memiliki tampilan yang serupa.

3. Melompat

Anda bisa melibatkan permainan melompat. Anda bisa meminta si kecil melompat dari satu nomor ke nomor yang lain. Ini benar-benar permainan balita yang sangat seru dalam mengajarkan angka. Anak Anda bisa dengan mudah melompat dari angka satu ke lainnya.

4. Berburu angka

Berburu angka merupakan cara anak belajar bagaimana mengenali angka dan mencari angka seperti yang diminta. Anda bisa menggunakan potongan kertas dan menuliskan angka di sana. Kemudian Anda menyembunyikan kertas di bagian rumah dan meminta anak mencari nomor tertentu.

5. Tarian nomor

Anda bisa mengenalkan angka ke si kecil dengan menari. Misalnya, Anda mengajarkan anak gerakan tertentu dan kemudian ketika Anda mengatakan empat ke si kecil, ia akan mengulangi gerakan sebanyak empat kali.

6. Tabak nomor

Permainan ini menarik perhatian anak-anak Anda. Anda bisa membuat anak menebak nomor dengan memberikan pentunjuk.


Misalnya, Anda bisa menggambar rumah dan menyebutnya sebagai angka 5. Kemudian Anda bisa menggambarkan pohon sebelum menanyakannya. Ini akan membantu anak menebak bahwa pohon adalah nomor empat. Ini akan membantu mengembangkan intelektual anak.



Sumber: http://health.liputan6.com/read/739810/agar-anak-jago-matematika-begini-cara-mengajarinya

Senin, 07 Juli 2014

Pahlawan Matematika Muslim yang Terlupakan

Pahlawan Matematika Muslim yang Terlupakan




Saat ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno. 

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat Islam) terhadap perkembangan matematika? 


Kisah angka nol 

Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu. 

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa "sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap". Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu. 

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. 

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal. 



Zaman Kegelapan 

Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu. 

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani. 

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq. 

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya. 

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F. Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya. 



Kontribusi matematikawan Muslim 

Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al-Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al-Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek aljabar”. 

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi-aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan. 

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,…dan 1/x, 1/x2, 1/x3,…dan memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al-Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui (variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang diketahui. 

Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang algebraic geometry. 

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra (lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing-masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir tahun 980). 

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p. 

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al-Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik. 

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner. 



Bidang Astronomi 

Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910-an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada bidang. 

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet. 

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) dan Al-Kashi. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari pengaruh para matematikawan Muslim. 

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan-pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan. Wallahu a’lam.*


Sumber :
Dr. Rizky Rosjandi, Doktor Bidang Kajian Analisis Aljabar, Alumni ITB, Staf Pengajar UPI
Al Jupri, Alumni UPI, Juara III Olimpiade Matematika Internasional di Iran, Staf Pengajar UPI
Pikiran Rakyat 2006
http://matematika.upi.edu/index.php/pahlawan-pahlawan-matematika-yang-terlupakan/, dalam:
http://fkip.ums.ac.id/matematika/cetak.php?id=2626 Januari 2010


Sumber Gambar:

http://library.kptm.edu.my/about2.php

Minggu, 09 Februari 2014

8 Hal Penting Rahasia Menciptakan Lingkungan Kelas yang Dinamis

8 Hal Penting Rahasia Menciptakan Lingkungan Kelas yang Dinamis





Menurut (Johnson, 2009) Berikut 8 kegiatan penting yang perlu kita lakukan untuk menciptakan lingkungan kelas yang dinamis yang juga dapat membantu Anda dalam mengembangkan hubungan Anda dengan murid-murid Anda.



1. Perkenalkan murid-murid anda satu sama lainnya, murid-murid cenderung memperlakukan satu sama lainnya dengan baik jika mereka mengetahui nama satu sama lainnya.


2. Ajarkan prosedur cara merespon secara lisan, ada 3 pilihan dalam cara merespon secara lisan :
-Murid harus selalu mengangkat tangan mereka sebeum berbicara dan tidak boleh menyela Anda atau murid-murid lainnya.
-Murid boleh menanggapi pertanyaan Anda atau komentar murid lainnya secara spontan.
-Setiap, orang termasuk Anda harus menunggu periode waktu yang spesifik (Saya sarankan 30 detik atau 2 menit) sebelum menanggapi. Selama waktu berpikir mereka menuliskan ide-ide mereka.


3. Cari tahu apa yang murid-murid anda telah ketahui, carilah esai atau editorial, ulasan film, atau artkel-artikel di koran atau majalah yang menarik atau kontroversial dan buat salinannya untuk murid Anda. Suruh mereka membaca artikel dengan tenang dan menuliskan tanggapan akan isinya. Cara ini tidak hanya memberikan Anda informasi tentangkemampuan mengarang dan berpikir analistis para murid, tetapi juga memberi mereka latihan yang baik bagi mereka kelak jika mereka harus melakukannya di bangku kuliah.


4. Bagikan lembaran selamat datang, bagikan lembaran tersebut di depan kelas sehingga Anda yakin bahwa semua anak sudah melihat dan mendengar dengan jelas apa yang termaktub di dalamnya. Walaupun negara kita negara demokrasi, namun menyerahkan pengendalian aturan yang demokratis untuk peserta didik bukanlah ide yang bagus. Mendengarkan ide mereka adalah cara yang baik untuk menghindari perilaku buruk atau pemberontakan di kemudian hari.


5. Delegasikan kekuasaan, kita senang menolong orang lain. Ttetapi kita juga sukadikendalikan, dan banyak dari kita sulit mendelegasikan kekuasaan kita. Dengan berbagi kekuasaan, Anda dapatmemberikan keuntungan yang besar. Dengan memberikan tugas-tugas kepada murid anda dapat menyimpan waktu dan energi anda untuk hal-hal yang lebih penting. Contohnya, menyuruh murid dalam mengabsen saat di dalam kelas, meskiput Anda memeriksa kembaliagar laporannya akurat.


6. Tunjukkan kekuatan pilihan, murid -murid harus mengetahui bahwa ketika mereka nakal atau gagal di kelas Anda, adalah karena mereka memilih untuk nakal dan gagal. Murid tidak memiliki alasan yang valid untuk tidak lulus dari kelas, lulus dari sekolah, menemukan pekerjaan yang layak, mengembangkan ketrampilan yang bermanfaat, dan menjadi manusia yang berhasil kecuali jika mereka benar-benar memiliki kecacatan belajar.


7. Bantu murid-murid anda memahami diri mereka sendiri, anak-anak muda lebih tertarik pada diri mereka sendiri dan teman-teman mereka dibanding dengan topik yang lain. mereka juga paling bingung dengan diri mereka sendiri, dan kebingungan itu sering menyebabkan masalah-masalah di sekolah.


8. Ajarkan murid-murid untuk berpikir tentang pikiran, hal ini dilakukan dengan menjelaskan tingkatan-tingkatan berpikir yang berbeda, dan memberikan satu atau dua contoh.


Taksonomi Bloom Domain Kognitif: Aplikasi Biologi.


-Mengingat level terendah, Mengingat informasi, menyebutkan nama-nama tumbuhan hijau, menyebutkan bagian-bagian tubuh, menyebutkan defenisi fotosintesis.
-Pengertian, memahami hal-hal: mengetahui perbedaan antara otak kiri dan otak kanan, atau karbohidrat dan protein.-Aplikasi, Menggunakan hal-hal yang kalian pahami: Menulis sebuah daftar nama tumbuhan yang termasuk tumbuhan dikotil dan yang termasuk tumbuhan monokotil.-Analisis, membandingkan hal-hal yang berbeda: membandingkan antara sel hewan dan sel tumbuhan.-Sintesis, Membuat ide-ide dan proyek kalian sendiri: Menulis artikel tentang pencemaran lingkungan.-Evaluasi level tertinggi, membuat penilaian berdasarkan pengetahuan. Membaca 2 opini yang berbeda dan menetukan opini mana yang masuk akal, dengan memberikan contoh-contoh spesifik dari suatu bacaan untuk mendukung pilihan.


Selasa, 05 November 2013

Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI)



Banyak tulisan yang beredar sekarang ini, lebih-lebih di internet. Namun demikian, mungkin tidak banyak yang merupakan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Secara sederhana, pengertian Karya Tulis Ilmiah dapat dijabarkan dari kata-kata “Karya”, “Tulis”, dan “Ilmiah”. “Karya” mengandung pengertian hasil dari gagasan dan upaya sendiri baik yang bersifat invensi (penemuan) maupun perumusan yang baru dari yang sudah ada, sehingga bukan merupakan gagasan dan upaya orang lain. “Tulis” mengandung arti bahwa gagasan dan upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk bahasa tulis, bukan yang lain seperti benda (patung), alat dengar, atau yang lainnya. “Ilmiah” mengandung arti bahwa gagasan dan upaya tersebut merupakan hasil dan kegiatan yang didasarkan teori dan/atau fakta serta dianalisis dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.


Beberapa definisi berikut dapat mewakili apa yang disebut dengan Karya Tulis Ilmiah. KTI merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan atau bukti-bukti empirik. (Wardani,dkk, 2007). Secara sederhana, Suharjono (2006) menyatakan bahwa KTI dapat diartikan sebagai laporan tertulis tentang (hasil) suatu kegiatan ilmiah.

Karakteristik Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Walaupun berbeda-beda dalam bentuk, isi, (dan tentu saja angka kreditnya), namun semua KTI memiliki kesamaan sebagai tulisan ilmiah, yaitu:
  1. Hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan.
  2. Kebenaran isinya mengacu pada kebenaran ilmiah.
  3. Kerangka sajiannya mencerminkan penerapan metode ilmiah.
  4. Tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya ilmiah. (Suharjono, 2006).
Karakteristik sebuah KTI dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta bahasa tulisan. (Wardani,dkk, 2007).
Struktur sajian KTI sangat ketat, paling pokok terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian akhir. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, bagian inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa subbagian. Sementara bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

Komponen KTI bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal umumnya mempersyaratkan adanya abstrak. Objektivitas merupakan sikap penulis dalam KTI. Cirinya antara lain tidak memihak (impersonal), menggunakan bahasa pasif, dan yang pasti berdasarkan data valid dan analisis yang tepat-rasional. Bahasa yang digunakan dalam KTI haruslah menggunakan bahasa baku (EYD dalam Bahasa Indonesia) yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Suharjono (2006) menyatakan, sebuah KTI memenuhi syarat sebagai sebuah hasil pengembangan profesi jika memenuhi kriteria “APIK”, yaitu Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten.
1. Asli
Karya tulis ilmiah itu haruslah merupakan karya diri si penulis, bukan karya orang lain, bukan pula dibuatkan oleh orang lain, atau menggunakan karya orang lain. KTI yang tidak asli dapat terindentifikasi antara lain melalui adanya indikasi bahwa tulisan itu skripsi, penelitian atau karya orang lain, adanya lokasi dan subjek yang tidak konsisten, waktu pelaksanaan yang tidak sesuai, data yangtidak konsisten, tanggal yang tidak konsisten, dan lain-lain.
2. Perlu
KTI seharusnya merupakan hasil sebuah usaha pemecahan masalah yang diperlukan oleh penulis dalam pengembangan profesi. Oleh karena itu, haruslah jelas manfaatnya bagi guru, siswa atau sekolah. KTI yang tidak perlu dapat terlihat dari masalah yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan usaha pengembangan profesi, tidak jelas manfaatnya, sudah jelas pemecahannya, dan tidak termasuk macam KTI yang dipersyaratkan untuk pengembangan profesi.
3. Ilmiah
Sebagai karya ilmiah, KTI haruslah mengkaji permasalahan di khasanah keilmuan, menggunakan kriteria kebenaran ilmiah (tidak didasarkan pada praduga, mitos, akal sehat, atau asumsi), menggunakan metode ilmiah (umumnya memuat dugaan teoritis dan uji empiris), dan memakai tatacara penulisan ilmiah. Selain tidak memenuhi beberapa kriteria di atas, suatu KTI yang tidak ilmiah juga terindikasi oleh tidak jelasnya rumusan masalah, landasan teori yang tidak sesuai, data yang tidak relevan dan tidak valid, analisis yang tidak sesuai, serta kesimpulan yang tidak sesuai atau tidak menjawab rumusan masalah.
4. Konsisten
Permasalahan yang diangkat dalam KTI haruslah sesuai dengan kompetensi si penulis sebagai seorang guru, dan sesuai pula dengan tujuan penulis untuk pengembangan profesinya sebagai guru dan terkait dengan dunia pendidikan.

Jenis dan Bentuk Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Kegiatan yang digolongkan ke dalam kegiatan ilmiah cukuplah banyak. Namun demikian, secara umum dapat digolongkan ke dalam 2 kategori, yaitu: KTI hasil penelitian ilmiah, dan KTI hasil kajian/ulasan/tinjauan ilmiah.
Sajian karya tulis ilmiah dapat berupa buku, modul, atau makalah baik yang dipublikasi maupun tidak. Perbedaan karya tulis ilmiah yang satu dengan yang lain bergantung pada kegiatan ilmiah yang dilakukan, tujuan penulisan, serta media publikasi atau dokumentasinya.
Kegiatan ilmiah dapat dikelompokkan dalam 2 besar yaitu kegiatan penelitian dan kegiatan kajian literatur. Kegiatan penelitian dimulai dengan kajian literatur lalu dilanjutkan dengan pengambilan data, menganalisisnya dan menyimpulkan. KTI yang merupakanhasil kajian literatur semata inilah yang dimaksud sebagai KTI hasil kajian/ulasan/tinjauan ilmiah. Tujuan penulisan karya ilmiah, secara umum adalah untuk menyampaikan gagasan atau hasil penelitian. Namun demikian beberapa penulisan KTI memiliki tujuan khusus antara lain untuk memenuhi tugas dalam studi, mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, atau mengikuti perlombaan.
Sementara media publikasinya dapat berupa cetak atau pun non-cetak. Dapat pula dikelompokkan ke dalam beberapa jenis: naskah 1 halaman, paper (beberapa halaman dan tanpa daftar isi), buku (halamannya banyak dan dijilid). Karya Tulis Ilmiah dalam rangka pengembangan profesi terbagi ke dalam 7 jenis KTI, yaitu:
1. KTI hasil penelitian, pengkajian, survei, dan/atau evaluasi
  • Berupa buku pelajaran yang diedarkan secara nasional
  • Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Kemdikbud
  • Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional
  • Berupa makalah
2. KTI yang merupakan tinjauan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan. Jenis-jenisnya sama dengan nomor 1.
3. KTI yang berupa tulisan ilmiah populer yang disebarkan melalui media massa (artikel ilmiah populer)
4. KTI yang berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan ilmiah (makalah)
5. KTI yang berupa buku pelajaran
  • Berupa buku yang bertaraf nasional
  • Berupa buku yang bertaraf provinsi
6. KTI yang berupa diktat pelajaran (yang digunakan di sekolahnya)
7. KTI yang berupa karya terjemahan (yang bermanfaat bagi pendidikan)

Manfaat Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Bagi guru, manfaat penulisan Karya Tulis Ilmiah terkait 2 hal pokok:
  1. Untuk meningkatkan profesionalisme sebagai guru. Dalam hal ini terkait dengan Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan. Dengan menulis, guru dapat mengasah dan mempertajam pemikiran dan wawasan terkait tugas dan tangung jawabnya sebagai guru.
  2. Untuk meningkatkan karir di jenjang guru. Penulisan KTI merupakan salah satu syarat untuk pengajuan angka kredit peningkatan pada jenjang guru tertentu.
Selain terkait dengan tugas dan tanggung jawab sebagai guru, penulisan karya tulis ilmiah dapat berfungsi sebagai rujukan/referensi untuk meningkatkan wawasan atau menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Dengan menulis karya ilmiah akan bermanfaat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, berlatih mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual, di samping menyumbang terhadap perluasan cakrawala ilmu pengetahuan. (Wardani,dkk, 2007).
Sumber : Hand out diklat online P4TK Matematika Yogyakarta 2013